Sunday, July 21, 2013

Masih Ramadhan yang Sama

Masih diramadhan yang sama, dengan segala keterpurukan dan kenistaan diri dibulan yang suci ini. Tanpa diselingi perubahan titik ditiap tahun yang berganti.

Lalu sampai kapan diri ini bertahan? Jalanan semakin terjal saja rasanya. Langkahpun mulai terhambat barang ada kutu disela-sela jari. Kutu yang kian hari kian merajut benang-benangnya hingga bau busuk muncul dari ini kaki.

Bukan malunya yang jadi penghalang, tapi sakit yang dikandung badan kian tak tertahankan. Sakit yang kian hari kian parah dengan tanpa penyembuhan walau tahun telah berganti.

Saturday, July 6, 2013

Langkah ke Timur

Aku tak pernah berhenti memikirkanmu. Tak ada sedikitpun rasa letih ataupun bosan ketika kumemikirkanmu. Kamu selalu hadir disetiap lamunanku baik dikala senang ataupun sedih.

Ingin sekali kumenggapaimu dan merangkul erat dirimu. Belajar dari air mata juga tawa manismu. Menggapai masa depanku bersamamu, itulah mimpiku.

Kenapa kau begitu istimewa? Bukan.. Sangat istimewa. Padahal kau pernah menyakitiku. Tapi kau tetap saja yang teristimewa. Aku selalu bermimpi dan terus bermimpi untuk balajar darimu. Belajar dari keterpurukan dan kemajuanmu.

Tuesday, July 2, 2013

Kerabat 3 Hari

Kesal sebenarnnya melihat yang lain pada yakin dengan hasil mereka. Iri bercampur marah dengan kepandaian mereka. Kenapa tuhan tak serta merta menciptakanku seirip dengan mereka? Paling tidak tepat dibawah mereka.

Jalan yang kulalui semakin sempit saja rasanya. Semakin sempit lagi dengan lalu lalang mobil-mobil mewah yang membuat macet jalanan. Ingin rasanya kupecahkan kaca mreka. Dan menyuruh mereka turut berjalan kaki. Apakah jarak kampus dan jalan raya sebegitu jauhnya hingga mereka enggan untuk berjalan?
"Berisik... Aku ingin segera keluar dari sini."

Friday, June 7, 2013

Cerita..

Wisuda.. akhir yang bahagia kuharap. Sayangnya kamu sudah jauh melupakanku. Dibandingkanku yang masih terantuk-antuk ditengah liku hatimu.

Jangankan untuk berbahagia, menyapapun enggan. Rasanya memang aku bukan masa-masa yang patut untuk dikenang.

Padahal kemarin aku berharap bisa saling bertukar cerita denganmu. Walau hanya sebatas cerita basi yang mungkin sudah sering kita dengar. Tapi tak ada salahnya jika itu salah satu jalan kebahagiaan. Hanya bercerita, tak ada yang lain. Dan tak perlu ada hubungan khusus. Hanya cerita..

Tuesday, June 4, 2013

Hari itu Pernah Ada

"Mungkin suatu saat nanti". Masih saja terngiang kalimat semacam itu dalam otakku. Mengantarkan laraku akan kebodohanku dulu. Hingga waktu yang tak lagi menyempatkanku tuk berubah.

Sepertinya memang kesalahan yang tak mengizinkanku kembali. Walau sudah kubulatkan tekad tuk berubah, namun engkau tak lagi mempercayaiku.

Rasa sakit dipenghujung hubungan kita memaksa diri kita tuk saling merelakan. Rasa sakit itu pula yang menghambat petikan lembut jemarimu tuk sekadar menyapaku dalam sms. Seperti waktu kita masuh berteman dulu. Walau tak ada hubungan spesial, kita bisa begitu akrab. Hingga hari itu tiba, hari yang menyatukan kita. Tapi kini semua harus berlalu. Menyisakan sepercik angan yang enggan tuk dimusnahhkan. Hanya karena rasa sakit yang sama-sama kita pendam.

Wednesday, March 13, 2013

Anata

Kamu, yah kamu. Siapa lagi? Kamu yang dulu tak mengenaliku kini duduk bersebelahan denganku. Tanpa ada alasan tanpa ada paksaan, hanya naluri perasaan yang menuntun.

Entahlah, aku juga tak tahu kenapa kamu mau duduk disebelahku. Padahal aku hanyalah aku. Aku bukan jawara kelas, bukan juga hartawan, apalagi rupawan. Aku serba kekurangan, tapi kamu mau duduk menemaniku. Menerima diriku.

Apakah aku berlebihan? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Tergantung orang memandang tentunya. Pokoknya inilah aku dan kamu mau menerimanya. Terima kasih, kuharap kamu bisa terus bersanding denganku. Walau suatu saat nanti kau tahu keburukanku.

Salah???

Tak ada salahnya kan jika harumenghargai usaha dan keinginan orang lain. Toh tak selamanya juga kita bisa dibenarkan. Biasanya orang yang menyalahkan juga bisa membenarkan men.

Ada benernya juga sih jika semua itu untuk antisipasi. Tapi jangan jadikan antisipasi itu sebagai alasan tuk menyalahkan orang lain. Kita itu tak selamanya benar men, kadang yang kita anggap rendah itulah kebenaran. Yang tahu benar atau tidak hanyalah tuhan men, lakuin aja apa yang harus kamu lakuin. Tak ada ruginya kan menumbuhkan sedikit senyum dibibir orang lain. Daripada harus menambah dosa karena memuramkan wajah orang lain.